Indonesia Selamatkan Muka ASEAN
Menlu Marty Natalegawa di Kamboja (Foto: AFP)
PHNOM PENH - Pada 20 Juli lalu, kelompok Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sempat mengalami kebuntuan saat berupaya untuk menetapkan konsensus yang berisi enam poin. Kondisi itu sempat menimbulkan isu perpecahan pada ASEAN.
Menurut Donald K Emmerson dalam tulisannya di Asia Times, Selasa (24/7/2012), kebuntuan yang dialami negara-negara anggota ASEAN ini dipicu oleh Menteri Luar Negeri Kamboja Hor Namhong, yang gagal mengumumkan konsesus bersama ASEAN mengenai Laut China Selatan. Masalah terjadi saat menlu-menlu ASEAN belum mendapatkan suara sama mengenai Dangkalan Scarborough yang dipersengketakan antara Filipina dan China.
Menlu Filipina Albert del Rosario menyalahkan Hor Namhong yang dikabarkan hanya diam selama penyusunan konsensus tersebut. Sementara Hor Namhong balik menuduh Rosario atas tindakan Filipina yang terlebih dulu mencuatkan pertikaian dengan China. Di saat inilah, Emmerson melihat peran besar dari Menlu Indonesia Marty Natalegawa yang bergerak sebagai mediator.
Laut China Selatan selama ini memang masih diklaim oleh beberapa negara ASEAN seperti Filipina, Kamboja, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia. China sebagai kekuatan besar di Asia, turut mengklaim hampir seluruh wilayah kaya akan sumber daya itu.
Peran Marty di mata Emmerson dilihatnya amat krusial saat terjadi kebuntuan. "hanya butuh waktu dua hari Marty Natalegawa melakukan shuttle diplomacy, untuk mendorong enam poin konsensus tersebut dapat lolos. Pada akhirnya, Hor Namhong pun membacakan konsesus tersebut demi kebaikan dirinya serta kebaikan para Menlu ASEAN terkait Laut China Selatan," tulis Emmerson.
Enam poin konsensus yang diartikulasikan oleh Hor Namhong berisi dukungan dari para menlu untuk menerapkan Declaration of Conduct mengenai Laut China Selatan dan mengikuti panduan penerapannya. Kemudian para Menlu ASEAN juga akan bekerja sama untuk mengadopsi Code of Conduct. Mereka juga sepakat untuk tidak menggunakan kekerasan terkait konflik Laut China Selatan, dan mengutamakan solusi damai dari konflik perebutan wilayah dengan berpegangan pada prinsip hukum internasional.
Perbedaan pendapat antara negara anggota ASEAN terhadap Laut China Selatan memang sudah dapat diredakan dalam bentuk kesepakatan, namun tidak sepenuhnya diselesaikan. Menlu Natalegawa mampu merumuskan enam poin tersebut bersama anggota ASEAN lainnya dan berhasil membujuk Kamboja untuk membacakannya agar dunia mendengarnya.
Tetapi Marty pantas khawatir menjelang KTT ASEAN di Phnom Penh November mendatang. Statusnya sebagai Ketua ASEAN tahun ini, Kamboja akan menjadi tuan rumah pertemuan antara negara Asia serta negara besar lainnya. Entah apalagi yang bisa dilakukan oleh Kamboja November mendatang.
Patut dilihat bagaimana kiprah Kamboja pada pertemuan November. Sebelumnya, Hor Namhong dituduh telah membelah ASEAN demi mengikuti keinginan China. Dirinya bahkan menuduh kebuntuan yang terjadi saat itu disebabkan oleh dua negara, dalam hal ini merujuk kepada Filipina dan Vietnam.(faj)
Menurut Donald K Emmerson dalam tulisannya di Asia Times, Selasa (24/7/2012), kebuntuan yang dialami negara-negara anggota ASEAN ini dipicu oleh Menteri Luar Negeri Kamboja Hor Namhong, yang gagal mengumumkan konsesus bersama ASEAN mengenai Laut China Selatan. Masalah terjadi saat menlu-menlu ASEAN belum mendapatkan suara sama mengenai Dangkalan Scarborough yang dipersengketakan antara Filipina dan China.
Menlu Filipina Albert del Rosario menyalahkan Hor Namhong yang dikabarkan hanya diam selama penyusunan konsensus tersebut. Sementara Hor Namhong balik menuduh Rosario atas tindakan Filipina yang terlebih dulu mencuatkan pertikaian dengan China. Di saat inilah, Emmerson melihat peran besar dari Menlu Indonesia Marty Natalegawa yang bergerak sebagai mediator.
Laut China Selatan selama ini memang masih diklaim oleh beberapa negara ASEAN seperti Filipina, Kamboja, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia. China sebagai kekuatan besar di Asia, turut mengklaim hampir seluruh wilayah kaya akan sumber daya itu.
Peran Marty di mata Emmerson dilihatnya amat krusial saat terjadi kebuntuan. "hanya butuh waktu dua hari Marty Natalegawa melakukan shuttle diplomacy, untuk mendorong enam poin konsensus tersebut dapat lolos. Pada akhirnya, Hor Namhong pun membacakan konsesus tersebut demi kebaikan dirinya serta kebaikan para Menlu ASEAN terkait Laut China Selatan," tulis Emmerson.
Enam poin konsensus yang diartikulasikan oleh Hor Namhong berisi dukungan dari para menlu untuk menerapkan Declaration of Conduct mengenai Laut China Selatan dan mengikuti panduan penerapannya. Kemudian para Menlu ASEAN juga akan bekerja sama untuk mengadopsi Code of Conduct. Mereka juga sepakat untuk tidak menggunakan kekerasan terkait konflik Laut China Selatan, dan mengutamakan solusi damai dari konflik perebutan wilayah dengan berpegangan pada prinsip hukum internasional.
Perbedaan pendapat antara negara anggota ASEAN terhadap Laut China Selatan memang sudah dapat diredakan dalam bentuk kesepakatan, namun tidak sepenuhnya diselesaikan. Menlu Natalegawa mampu merumuskan enam poin tersebut bersama anggota ASEAN lainnya dan berhasil membujuk Kamboja untuk membacakannya agar dunia mendengarnya.
Tetapi Marty pantas khawatir menjelang KTT ASEAN di Phnom Penh November mendatang. Statusnya sebagai Ketua ASEAN tahun ini, Kamboja akan menjadi tuan rumah pertemuan antara negara Asia serta negara besar lainnya. Entah apalagi yang bisa dilakukan oleh Kamboja November mendatang.
Patut dilihat bagaimana kiprah Kamboja pada pertemuan November. Sebelumnya, Hor Namhong dituduh telah membelah ASEAN demi mengikuti keinginan China. Dirinya bahkan menuduh kebuntuan yang terjadi saat itu disebabkan oleh dua negara, dalam hal ini merujuk kepada Filipina dan Vietnam.(faj)
0 komentar:
Posting Komentar